Berita

7 Strategi Pembelajaran Aktif Sesuai dengan Kurikulum Merdeka


Strategi pembelajaran mencakup semua jenis teknik pembelajaran yang digunakan guru untuk membantu siswa belajar atau mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang materi pelajaran. Mereka memungkinkan guru untuk membuat pengalaman belajar lebih menyenangkan dan praktis dan juga dapat mendorong siswa untuk mengambil lebih banyak peran aktif dalam pendidikan mereka. Tujuan menggunakan strategi pembelajaran di luar pemahaman mata pelajaran adalah untuk menciptakan siswa yang merupakan pembelajar strategis yang mandiri. Harapannya, dengan waktu dan latihan, siswa akan dapat memilih sendiri strategi yang tepat dan menggunakannya secara efektif untuk menyelesaikan tugas.

Ada berbagai contoh strategi pembelajaran yang dapat digunakan secara efektif di semua tingkatan dan bidang studi, dengan berbagai gaya belajar. Strategi pembelajaran ini memotivasi siswa dengan meningkatkan keterlibatan mereka, menangkap perhatian mereka dan mendorong mereka untuk fokus tidak hanya mengingat materi pelajaran, tetapi benar-benar memahaminya sehingga mendapatkan kompetensi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

1.    Tiket Keluar (Exit tickets)

Sebelum siswa meninggalkan lingkungan belajar Anda, mintalah mereka untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan konsep kunci yang dibahas dalam pelajaran hari itu. Mereka dapat menuliskannya di selembar kertas atau kartu indeks. Pertanyaan bisa sederhana, seperti menanyakan kepada siswa apa yang menurut mereka paling menarik tentang pelajaran. Atau, mereka bisa lebih kompleks, seperti meminta mereka menggambar sketsa yang menunjukkan apa yang mereka pelajari, atau meminta mereka untuk menghubungkan konsep kunci yang mereka pelajari dengan situasi kehidupan nyata. Mintalah siswa menyerahkan “tiket” kepada Anda saat mereka keluar (atau minta mereka mengirimkan tanggapan ke papan diskusi Anda), lalu tinjau tanggapannya.

Umpan balik dapat membantu pendidik menentukan siswa mana yang membutuhkan pengajaran tambahan di bidang tertentu. Dengan menggunakan pendekatan ini, guru memperoleh pemahaman yang cepat tentang bagaimana seluruh kelas memahami dan bereaksi terhadap materi.

Gunakan informasi dari tiket keluar untuk membentuk kelompok di kelas berikut. Tempatkan siswa pada tingkat pemahaman yang sama, atau yang memiliki pandangan serupa tentang suatu topik, bersama-sama. Sebaliknya, kelompokkan siswa dengan pandangan yang berlawanan untuk mendorong debat dan percakapan.

Contoh tiket keluar yang dapat digunakan langsung ada pada template Google Form seperti pada gambar di bawah ini.

 

2.    Ruang Kelas Terbalik (Flipped Classroom)

Ketika COVID-19 melanda pada Maret 2020, model pembelajaran kelas terbalik membantu para guru mempertahankan partisipasi online secara real-time dan mandiri. Terlepas dari di mana Anda mengajar, membalik kelas Anda adalah salah satu bentuk pembelajaran aktif yang paling populer dan di antara strategi pembelajarannya yang paling terkenal. Alih-alih menggunakan waktu kelas untuk kuliah, pendidik memberi siswa rekaman kuliah untuk ditonton sebelum kelas. Mereka sering kali ringkas, diposting ke situs seperti YouTube, atau disajikan dalam bentuk podcast yang dapat didengarkan siswa di rumah atau selama perjalanan mereka. Pendidik kemudian dapat menggunakan waktu kelas untuk melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang berkaitan dengan materi yang telah mereka lihat atau dengar di rumah.

Kelas terbalik adalah teknik pengajaran yang efektif karena memungkinkan siswa untuk meninjau dan mempelajari konsep pada waktu mereka sendiri. Siswa kemudian bebas untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih interaktif dan kolaboratif di kelas, termasuk diskusi dan tugas dengan rekan dan guru mereka. Mereka juga dapat berkolaborasi dan mendiskusikan materi secara online, melalui diskusi forum dengan rekan sejawat dan pakar materi pelajaran. Di kelas, siswa dapat secara aktif menerapkan konsep melalui peer learning, kerja kelompok, dan presentasi.

Pembelajaran terbalik membantu siswa terus terlibat dalam kelas, bukan hanya mendengarkan secara pasif. Dan itu memanfaatkan waktu jeda dengan memungkinkan siswa untuk menggabungkan waktu latihan atau perjalanan dengan pembelajaran lebih lanjut, saat itu paling nyaman bagi mereka. Secara ringkasnya pembelajaran terbalik dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

3.    Jurnal dan Log Pembelajaran

Strategi pembelajaran ini memungkinkan siswa merekam pikiran, perasaan, dan refleksi mereka tentang berbagai topik. Jurnal dapat merujuk pada sesuatu yang dibahas dalam kelas Anda, atau dapat memungkinkan siswa untuk merenungkan artikel surat kabar atau media yang relevan yang mereka temukan. Jurnal juga dapat digunakan untuk membuat siswa berpikir kritis tentang materi pelajaran dan bagaimana itu dapat diterapkan ke dunia nyata. Kegiatan ini memungkinkan siswa membuat prediksi, bertukar pikiran, menghubungkan ide dan bahkan mengidentifikasi solusi untuk masalah yang disajikan di kelas.

Anda dapat mempertimbangkan untuk menggunakan petunjuk berikut sebelum tugas jurnal untuk mempromosikan pemikiran tingkat tinggi. Di awal pelajaran, Anda mungkin bertanya, “Pertanyaan apa yang Anda miliki dari kemarin?” Di tengah pelajaran, tanyakan, “Apa yang ingin Anda ketahui lebih banyak?” Di akhir pelajaran Anda, tanyakan, “Bagaimana Anda dapat menggunakan temuan ini di luar kelas?” Imbaulah siswa untuk mencatat pemikiran apa pun yang muncul di benak pada tiga poin ini. Di akhir semester, jurnal mereka dapat menjadi landasan pedoman belajar yang lebih komprehensif.

Contoh jurnal mengajar guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 

4.    Makalah Menit (Minute Paper)

Ajukan pertanyaan tentang pembelajaran hari itu, dan beri siswa waktu untuk merenung sebelum menuliskan jawaban mereka sendiri atau berpasangan. Tanggapan dapat memberikan wawasan yang berharga dalam pemahaman siswa tentang materi.

Makalah menit dapat disajikan dalam beberapa cara, tetapi yang paling mudah adalah "tiket keluar", di mana pendidik menyelesaikan kelas beberapa menit lebih awal. Mereka kemudian meminta siswa untuk menjawab apa hal terpenting yang mereka pelajari hari ini dan pertanyaan apa yang masih mereka miliki. Pertanyaan pertama mengharuskan siswa untuk berpikir cepat, mengingat materi kelas, memutuskan poin utama, dan memasukkannya ke dalam kata-kata mereka sendiri. Untuk yang kedua, mereka harus berpikir lebih jauh tentang apa yang telah mereka pahami selama ini.

 

5.    Titik Paling Berlumpur (Muddiest Point)

'Titik paling kotor' adalah strategi pembelajaran pembelajaran aktif lainnya. Aktivitas ini meminta siswa untuk menggunakan kartu indeks (atau aplikasi), untuk mengirimkan secara anonim bagian mana dari materi pelajaran yang paling sulit bagi mereka. Pendidik kemudian dapat menggunakan tanggapan untuk menentukan di mana pembelajaran tambahan diperlukan dan menyesuaikan pelajaran yang sesuai.

Atau, topik ini dapat dibahas selama sesi review siswa. Mintalah siswa untuk mengidentifikasi topik yang mereka rasa perlu diklarifikasi dan menggabungkannya ke dalam daftar. Kemudian mintalah setiap siswa untuk memilih istilah dari daftar yang mereka rasa dapat mereka jelaskan ke seluruh kelas.

Coret dari daftar, dan lanjutkan ke yang berikutnya. Pada akhirnya, akan mudah untuk melihat konsep mana yang paling bermasalah dengan siswa melalui proses eliminasi. Dan jika istilah belum dipilih, mereka dihindari karena suatu alasan. Secara alami, siswa akan memilih istilah yang paling nyaman bagi mereka.

Gunakan informasi itu untuk merancang lebih banyak sesi yang dipimpin instruktur tentang konsep-konsep yang sebagian besar siswa bingung, atau yang memerlukan lebih banyak klarifikasi, untuk akhirnya melengkapi seluruh daftar.

6.    Refleksi

Bagikan kartu indeks kosong atau lembar kerja yang telah dirancang sebelumnya di akhir sesi kelas dan minta siswa menggunakannya untuk mengirimkan tanggapan atas pertanyaan tentang pelajaran hari itu. Atau, mintalah siswa untuk mengirimkan tanggapan papan diskusi. Prompt refleksi bisa sederhana, seperti menanyakan apa yang mereka pelajari, atau apa yang menurut mereka paling menarik. Atau, Anda dapat membuat prompt Anda lebih berbasis aplikasi, seperti meminta mereka untuk menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan situasi kehidupan nyata, atau memberi tahu mereka untuk menjelaskan mengapa apa yang mereka pelajari itu penting.

Tujuan refleksi adalah untuk mendorong siswa untuk mempertimbangkan apa yang telah mereka pelajari. Seperti sejumlah strategi pembelajaran lainnya dalam daftar ini, ini juga memberi guru gambaran tentang di mana siswa berdiri pada suatu topik atau masalah sehingga mereka dapat menggunakan informasi ini untuk membantu mempersiapkan pembelajaran berikutnya dengan lebih baik. Manfaat tambahannya adalah meminta siswa mengungkapkan pemikiran ini di atas kertas dapat menghasilkan retensi memori yang lebih baik.

7.    Berpikir-Berpasangan-Berbagi (Think-Pair-Share)

Teknik pembelajaran aktif ini adalah salah satu strategi instruksional yang paling terkenal. Setelah menyampaikan pelajaran, hentikan pelajaran sejenak untuk meminta siswa berpasangan dengan pasangannya. Mintalah mereka mendiskusikan materi yang baru saja mereka pelajari. Persiapkan pertanyaan, dan, setelah mereka memiliki waktu untuk berdiskusi dengan pasangan mereka, mintalah siswa secara bergiliran mempresentasikan pengamatan mereka ke seluruh kelas.

Buatlah pertanyaan yang menantang, sehingga dapat memicu perdebatan antara siswa yang berkelompok atau berpasangan. Beri mereka beberapa menit untuk berbicara di antara mereka sendiri dan sampai pada kesimpulan bersama.

Think-pair-share dapat bekerja dengan sangat baik untuk beberapa pelajaran pertama di kelas, membuat siswa tetap waspada dan tertarik pada materi yang akan datang. Tapi itu juga dapat membantu menangkap kembali antusiasme siswa menjelang pertengahan semester, mengingatkan siswa bahwa mereka tidak sendirian dalam pembelajaran mereka dan bahwa orang lain berbagi pandangan atau keprihatinan mereka, dan bahwa ada perspektif berbeda untuk mendukung sebuah isu yang layak dipertimbangkan lebih jauh. mereka sendiri.